Korea-Korea Selecao 2024, Wujudkan Mimpi Talenta U-15 ‘Melenting’ ke Portugal

GenPI.co – Korea-Korea Selecao akan mewujudkan mimpi talenta muda sepak bola U-15 Jawa Tengah untuk menimba ilmu di Portugal.

Nantinya, para pemain muda sepak bola Jawa Tengah itu akan belajar, berinteraksi, dan menimba pengalaman dari para juara sepak bola dunia di Portugal.

Gelaran ini diselenggarakan diinisiasi oleh Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul bersama coach Justinus Lhaksana dan coach Abel Xavier.

Coach Abel Xavier adalah mantan pemain yang berpengalaman. Dirinya pernah berkarier di Liga Portugal (Benfica, CF Estrela), Italia (Bari dan AS Roma), Spanyol (Real Oviedo), Belanda (PSV Eindhoven), Inggris (Middlesbrough, Everton, Liverpool), Turki (Galatasaray), Jerman (Hannover 96), sampai Amerika Serikat (LA Galaxy).

Sementara itu coach Justin atau yang akrab disapa Koci ini sering muncul di media sosial lewat konten-konten saat dia membahas tentang sepak bola Indonesia maupun luar negeri.

Awalnya, Koci mendirikan Adjie Massaid Futsal Clinic (AMFC), sekolah futsal pertama di Indonesia.

Di sana, Koci menjadi pelatih sekaligus sebagai pendidik bagi anak-anak. Koci juga sempat mengikuti kursus kepelatihan dan mendapatkan lisensi dari KNVB, asosiasi sepak bola Belanda.

Mereka hadir dalam acara press conference kick-off ‘Korea-Korea Selecao 2024’ yang diselenggarakan pada 17 September 2024 di Diskusi Kopi, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut Bambang Pacul mengatakan perhelatan ini bakal membantu mewujudkan mimpi talenta muda U-15 dalam waktu dekat.

Proses seleksi para pemain bertalenta U-15 bakal dilaksanakan di 6 karesidenan di Jawa Tengah oleh tim yang dipimpin Koci.

Seleksi ini melibatkan sekolah sepak bola, para peserta kompetisi amatir atau pun talenta muda lainnya di luar itu.

“Dalam 10 hari, fokus kami akan menggali talenta yang terpilih nanti dengan memberikan pandangan yang baru dan pengalaman berbeda di dunia sepak bola yang belum mereka alami selama ini. Selain program latihan, mereka akan diajak menonton pertandingan di Portugal,” ungkap Abel yang hadir secara daring langsung dari Portugal saat acara konferensi pers di Setia Budi, Selasa (17/9).

50 talenta sepak bola Jawa Tengah akan melalui seleksi sampai babak final, dipimpin langsung oleh Koci dan coach Abel Xavier di Semarang mulai tanggal 21 September-13 Oktober 2024.

Nantinya seleksi tahap akhir bakal digelar di Semarang pada 26 Oktober 2024.

“Abel Xavier adalah contoh ‘Korea’ yang melenting! Ini pengalaman baru yang ‘menghidupkan’. Kekuatan pikiran itu luar biasa. Akan bisa menggerakkan dan menjadi driving force (kekuatan pendorong) untuk mereka (para peserta) dalam mewujudkan mimpi mereka di sepak bola,” ungkap Bambang Pacul.

Nantinya seleksi final ini akan mencari 17 pemain yang pada 20-30 november 2024 bakal mendapat pelatihan di Lisbon Portugal.

“Saya akan prioritaskan pemain dengan teknis dasar seperti passing dan dribbling yang baik. Bukan pemain yang bisa gocek dan cetak gol,” ujar Koci.

Penjelasan ‘KOREA-KOREA’

Kenapa istilah ‘Korea’ dipakai? Istilah ‘Korea-Korea’ sangat populer di masyarakat Jawa.

Secara kultural di Jawa, istilah ‘Korea’ berkembang yang kemudian mengacu pada orang-orang yang berasal dari kelas menengah bawah, yang mana memiliki mimpi dan harapan untuk melenting ke atas.

Mereka adalah orang-orang yang punya daya juang luar biasa untuk keluar dari belenggu kemiskinan.

Pada kesempatan ini, Abel Xavier juga juga menceritakan latar belakang perjuangan yang sama dalam karier sepak bolanya.

Pria yang berasal dari Mozambik ini juga melalui banyak masa sulit sejak kecil dan berangkat dari keluarga miskin.

Dirinya memberanikan diri untuk mengikuti pelatihan sepak bola di Portugal sejak usia 6 tahun.

“Kenapa menggunakan istilah melenting? Sebab, para ‘Korea’ keluar dari jurang kemiskinan dengan lompatan yang eksponensial. Orientasi kehidupannya terus bergerak ke lapisan sosial atas. Lewat ajang ini kami bantu mereka agar tidak takut bermimpi lagi,” jelas Bambang Pacul.

Coach Justin juga menekankan dirinya selama ini selalu mencari pemain dari keluarga miskin.

“Mereka punya daya juang yang lebih besar. Mereka mau keluar dari lingkaran kemiskinan untuk membantu keluarganya. Program ini luar biasa, bisa mewujudkan hal tersebut,” lanjut Koci.(*)

Video populer saat ini:
https://ouo.io/Nv792gx

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started